Tidak Pernah Mendahului Amal

Seorang yang kaya raya berwasiat kepada keluarganya. Ia berpesan agar saat wafat, ia dikuburkan dengan sejumlah uang untuk ‘menyogok’ tuhan agar mengampuni dosa-dosanya, kemudian memasukakannya ke dalam surga –wa’iyyadzubillah.

Harta dan ketinggian nasab sering membuat kita sombong untuk beramal. Merasa telah aman dengan baiknya nasab, padahal amal tidak ikut baik bersamanya.

Bukankah kesombongan Fir’aun karena ia lahir dari nasab seorang raja? Tidaklah ia percaya diri mengaku sebagai tuhan melainkan karena merasa berasal dari keturunan terbaik. Begitu pula kesombongan Qarun, merasa pandai sehingga ia bisa kaya karenanya?

Belajarlah dari kisah terdahulu, tentang orang-orang yang Allah ta’ala binasakan karena kesombongan mereka atas kepemilikan (sementara) terhadap harta dan nasab mereka. Ambillah pelajaran agar kita tidak tercatat sebagai penerusnya, sedangkan Allah ta’ala telah mengingatkan kita dalam banyak ayat Al-Qur’an maupun melalui sunnah Rasul-Nya.

Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda

ومن بطع به عمله لم يسرع به نفسه

“… Siapa yang lambat amalnya, hal itu tidak akan dipercepat oleh nasabnya.” (HR. Muslim, No. 6299)

Maka, seorang budak hitam yang miskin akan mendahului bangsawan keturunan raja dengan amalnya. Pun saat seorang bangsawan melakukan maksiat, maka harta dan nasabnya tidak akan dapat membantunya. [1]

Allah Ta’ala berfirman

   مَنْ يَعْمَلْ سُوءًا يُجْزَ بِهِ وَلا يَجِدْ لَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَلِيًّا وَلا نَصِيرًا. وَمَنْ يَعْمَلْ مِنَ الصَّالِحَاتِ مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ وَلا يُظْلَمُونَ نَقِيرًا

Barang siapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan dibalas sesuai dengan kejahatan itu, dan dia tidak akan mendapat pelindung dan penolong selain Allah. Dan barangsiapa mengerjakan amal kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan sedang dia beriman, maka mereka itu akan masuk ke dalam surga dan mereka tidak didzalimi sedikitpun.” (QS. An-Nisaa’ : 123-124) [2]

Kita tidak perlu kecewa dengan nasab yang biasa atau harta yang tak seberapa, karena Allah Ta’ala telah berfirman,

ان أكرمكم عند الله أتقاكم

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Saat Allah menetapkan taqwa sebagai parameter kemuliaan seseorang, maka tidak bermanfaat nasab yang baik atau harta yang banyak.

Jangankan harta kita yang amat sedikit jumlahnya. Bahkan dengan mengumpulkan seluruh kekayaan yang ada di dunia ini sama sekali tidak ada harganya di hadapan Allah. Lantas kita merasa sombong?

Lalu nasab, apa yang ingin kita banggakan? Sesungguhnya pahala dan dosa tidaklah diwariskan. Kita tidak akan dimasukkan ke dalam surga karena keshalihan ayah atau ibu kita. Sebagaimana kita tidak akan dilemparkan ke neraka karena dosa-dosa mereka. Setiap orang akan bertanggung jawab dengan dirinya sendiri pada hari pembalasan kelak.

 

Kematian, motivasi berlomba dalam amal kebajikan

‘Abul ‘Athahiyyah berkata dalam baitnya

Janganlah kau merasa aman dengan kematian walau sekejap, sehembus nafas sekalipun

Walau kau halangi kedatangannya dengan pengawal dan penjaga

Sungguh ia pasti datang kepada siapa saja yang berbaju besi pun yang berperisai

Kau harap selamat tanpa tempuh jalannya

Adakah sampan berjalan di atas pasir? [3]

Saudariku.. Semakin besar balasan suatu amal, maka semakin besar pula usaha yang harus kita kerahkan. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

عِظَمُ الجزاءِ معَ عِظَمِ البلاءِ

“Besarnya balasan, sesuai dengan besarnya cobaan” (HR. At Tirmidzi no. 2396, dihasankan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi).

Allah Ta’ala berfirman,

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ    وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ

Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan keburukan sebesar zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah : 7-8)

Termasuk amal di sini adalah amalan hati, karena begitu berat dan sulitnya untuk meluruskan niat, maka semakin lurus niat seseorang, semakin besar pulalah pahalanya. Apatah lagi seseorang yang senantiasa berusaha memperbaiki niatnya. Bersamaan dengan itu, ia memperbagus dan memperbanyak amal kebaikannya.

Saudariku.. Usaha akan menyisakan lelah..

Maka, tidak mungkin suatu kebaikan diperoleh dengan optimal, kecuali dengan meninggalkan kenikmatan-kenikmatan yang dicintai nafsu kepada hal-hal yang melelahkan raga.

Abdurrahman bin Abu Hatim berkata “Ilmu (agama) tidak akan diraih dengan badan yang bersantai-santai.” [4]

Saat balasan dari kebaikan dibangun di atas usaha dan perjuangan. Maka tidak akan berguna harta dan nasab kecuali yang dimanfaatkan untuk berusaha dan berjuang di atas kebaikan pula.

Sumber

[1] Al-Imam Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Syarhu Al-Arba’in An-Nawawiyyah (Terjemah), Penerjemah Abdul Rosyah Shiddiq, Penerbit Akbar Media, Jakarta Timur, Cetakan Ketiga, 2009.

[2] Terjemahan bahasa Indonesia Al-Qur’anul Kariim terbitan PT. Insan  Media Pustaka, Depok.

[3] Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Ibnu Rajab Al-Hambali, Imam Al-Ghazali, Tazkiatun Nufus (Terjemah), Penerbit Pustaka Arafah, Solo, Cetakan ke-28, 2013.

[4] Muhammad Abduh Tuasikal, Ilmu Tidak Diraih dengan Badan yang Malas, http://ift.tt/2mavF2Y, 2011.

 

Penulis: Ummu ‘Abdirrahman

 

Artikel Muslimah.or.id

Baca selengkapnya

Bantu Sebarkan Melalui...Email this to someone
email
Share on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Share on Google+
Google+
Share on LinkedIn
Linkedin