BAYI YANG BIASA DIPERDENGARKAN AL-QUR’AN, MAKA HATINYA AKAN TERIKAT DENGAN AL-QUR’AN

Ayah dan Bunda -semoga senantiasa dirahmati Allâh-

Sesungguhnya Allah meninggikan derajat manusia dengan ilmu, dan ilmu ini diperoleh manusia karena Allah mengaruniakan kepadanya sejumlah instrumen (indera) untuk belajar (al-Adawat lit ta’allumi), yaitu pendengaran, pengelihatan dan pemahaman (akal), meski manusia dilahirkan dalam keadaan jahil, tidak memiliki ilmu sedikitpun (lihat QS an-Nahl : 78).

Indera yang pertama kali berkembang pada manusia adalah pendengarannya, terutama dia 2 tahun awal kehidupannya (fase rodho’ah/menyusui), baru kemudian pengelihatannya yang diiringi dengan perkembangan akal (kognisi), kemudian akal, nalar dan fahamnya semakin berkembang sehingga mencapai keoptimalannya.

Dalam ilmu pengasuhan islam (parenting islam), kita dapati bahwa diantara langkah-langkah yang sering disebutkan para ulama adalah mengadzani bayi yang baru lahir, terlepas dari perbedaan pendapat tentang dha’ifnya. Ibnul Qoyyim menerangkan manfaatnya bahwa :

أن يكون أول ما يقرع سمع الإنسان كلماته – أي كلمات الأذان – المتضمنة لكبرياء الرب وعظمته والشهادة التي أول ما يدخل بها في الإسلام

“Agar yang pertama kali didengar oleh pendengaran manusia adalah kalimat kumandang adzan yang mengandung kebesaran dan keagungan Rabb serta persaksian (syahadat) yang seseorang masuk Islam dengannya….” [Tuhfatul Maudud hal 25]

Banyak praktisi parenting barat dan modern mengakui hal ini, dan melakukan sejumlah penelitian tentang pengaruh musik terhadap bayi. Kita meyakini bahwa manusia akan tumbuh memiliki karakter sesuai dengan kebiasaan dan pola asuhnya. Karenanya, anak yang terbiasa diperdengarkan musik, maka akan cenderung senang dengan musik. Di sisi lain kita yakin, bahwa musik itu haram di dalam agama kita, dan segala yang diharamkan itu pasti membawa keburukan dan kejelekan.

Berbeda dengan al-Qur’an, kalâmullâh… al-Qur’an itu bermanfaat bagi yang membaca dan mendengarkannya, karena al-Qur’an itu rahmat, hidayah, syifa’ (penawar), ketentraman, kebahagiaan, keselamatan dan segala kebaikan.

Apabila gunung saja dapat tunduk terpaku…

لَوْ أَنْزَلْنَا هَٰذَا الْقُرْآنَ عَلَىٰ جَبَلٍ لَرَأَيْتَهُ خَاشِعًا مُتَصَدِّعًا مِنْ خَشْيَةِ اللَّهِ ۚ وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَفَكَّرُونَ

Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terbelah disebabkan ketakutannya kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berfikir. [QS al-Hasyr : 21]

Dalam Zubdatut Tafsir disebutkan karena keagungan, kefasihan, dan kandungan al-Qur’an yang penuh pelajaran yang dapat melembutkan hati, maka gunung yang kokoh pun dapat tertunduk-tunduk hingga terbelah.

Lantas bagaimana dengan hati anak kita yang masih murni dan bersih, yang masih berada di atas fitrahnya, maka tentulah hati itu akan semakin lembut, bersih, bercahaya dan penuh keimanan…

DR Kariman Budair berkata :

أن الأم الحامل التي تستمع كثيراً إلى آيات القرآن الكريم ، أو تتلوه بصوت مسموع يكون طفلها أكثر إقبالاً على سماع القرآن وتلاوته وتعلُّمه فيما بعد ، بل إنه يميِّزه من بين الأصوات ، وينجذب نحوه كلما سمعه وهولا يزال رضيعاً !!!!!
لذا فإن الإكثار من تلاوة القرآن والاستماع إليه في فترة الحمل يزيد من ارتباط الطفل عاطفياً ووجدانياً بالقرآن ، ما يزيد من فرصة الإقبال على تعلُّمه وحِفظه فيما بعد.)

Bahwa ibu hamil yang sering mendengarkan ayat al-Qur’an atau membacanya dengan suara yang dapat didengarkan anaknya, menyebabkan anak akan lebih tertarik saat mendengar al-Qur’an, lebih mudah membacanya dan mempelajarinya setelahnya. Bahkan bayi sejatinya sudah bisa membedakannya dengan suara-suara lainnya. Bayi juga menunjukkan ketertarikan setiap kali mereka mendengarkan al-Qur’an meski sedang menyusu.

Karena itulah ibu hamil yang intens membaca dan mendengar al-Qur’an menyebabkan anak memiliki ikatan perasaan dan emosional dengan al-Qur’an, yang akan menambah peluang ketertarikan anak untuk mempelajari al-qur’an setelahnya. [Ri’ayatu ath-Thifli minal Janîn hatta ‘âmayni, hal 117]

Alangkah benarnya nasehat yang  berbunyi :

‏وينشَأُ ناشِئُ الفِتيان منَّا على ما كانَ عوَّدَه أبُوه

Anak-anak kita akan tumbuh berkembang sesuai dengan kebiasaan yang dibiasakan ayahnya…

@abinyasalma

Baca selengkapnya